Ketika Dosen Tak Lagi Menemukan ‘Rumah’nya di Kampus

Obsesi Perguruan Tinggi Indonesia mengejar gelar World Class University (WCU) sering kali hanya indah di permukaan, terjebak dalam pencitraan semu. Kita melihat gedung megah berdiri, akreditasi internasional dikejar, dan publikasi ilmiah digalakkan. Namun, ada fondasi krusial yang terabaikan: kesejahteraan dan kebermaknaan peran dosen.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Muhammad Kurjum Rifa’i, menegaskan, “Tanpa dosen yang merasa dihargai dan terlibat secara emosional, visi menjadi universitas kelas dunia hanya akan jadi slogan kosong.”

Menurut Prof. Kurjum, krisis ini terwujud dalam fenomena “hadir secara fisik, tapi absen secara batin.” Bagi banyak dosen, kampus telah kehilangan daya tariknya sebagai “rumah intelektual,” dan berubah menjadi sekadar “ruang administrasi yang dingin dan birokratis.”

Kepergian batin ini mendorong dosen mencari makna di luar, menjadi konsultan, pembicara, hingga pebisnis. “Ini bukan hanya soal mencari tambahan penghasilan, tetapi karena mereka tidak lagi menemukan arti di dalam kampusnya sendiri,” tegasnya, menyebut kondisi ini sebagai “krisis kenyamanan dan makna dalam kehidupan akademik.”

Ia mengutip Locke (1976) yang menyatakan kepuasan kerja lahir dari penilaian emosional positif terhadap pekerjaan. Namun di banyak kampus, suara dosen diabaikan, ruang kreatif ditutup, dan apresiasi minim. Akibatnya, keterikatan psikologis pun memudar. “Dosen hanya jadi operator sistem, bukan penggerak perubahan,” ujarnya.

Prof. Kurjum menggarisbawahi akar masalah ini dengan merujuk pada Locke (1976), yang mendefinisikan kepuasan kerja sebagai penilaian emosional yang positif. Hilangnya rasa positif itu dipicu oleh pengabaian: suara dosen tak didengar, ruang kreatif terampas, dan apresiasi finansial/non-finansial sangat minim. Ketika kondisi ini terjadi, keterikatan psikologis dosen ke institusi memudar. “Dosen hanya jadi operator sistem, bukan penggerak perubahan,” ujar Kurjum, menyentil hilangnya peran transformatif mereka.

Obsesi mengejar predikat universitas kelas dunia telah memicu ketimpangan prioritas di kampus. Infrastruktur fisik diagungkan, sementara aspek intelektual terabaikan. Akibatnya, fokus pada akreditasi dan publikasi menumpuk, mengorbankan hal mendasar: menyempitnya ruang dialog akademik yang seharusnya menjadi denyut nadi kampus.

Hilangnya Ruang Bernapas Akademik

Beberapa kampus mulai menghidupkan kembali kebersamaan akademik melalui pendekatan yang lebih menarik: coffee morning, writing retreat, klub baca, hingga diskusi film bertema ilmiah.

Prof. Kurjum mengutip praktik luar negeri, seperti writing retreat yang sukses meningkatkan produktivitas publikasi di Eropa, dan hanami academic picnic di Jepang yang berfungsi sebagai jembatan sosial akademisi.

Menurutnya, kegiatan ini bukan pelarian, melainkan bentuk pemulihan gairah intelektual yang kerap hilang dalam sistem kampus yang terlalu birokratis.

Prof. Kurjum menggarisbawahi ada enam faktor yang membuat dosen ingin menetap. Mulai dari lingkungan kerja inspiratif, kepemimpinan akademik visioner, penghargaan dan kesejahteraan yang adil, ruang berkembang, budaya akademik yang kuat, serta keseimbangan kerja dan hidup.

“Dosen bukan hanya butuh gaji layak, tapi juga butuh rasa dihargai, ruang belajar, dan atmosfer dialog intelektual yang hidup,” tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan rektor dan dekan yang tidak sekadar administratif, tetapi mampu membuka ruang partisipasi dan transparansi.

Paradigma 3P

Sebagai langkah balik keadaan, Prof. Kurjum menawarkan kerangka paradigma “3P” yang transformatif. Inti dari solusi ini adalah: People (Memperlakukan dosen sebagai insan intelektual yang berintegritas), Purpose (Mengembalikan makna pengabdian dalam setiap kerja akademik), dan Prosperity (Memastikan kesejahteraan dan penghargaan yang adil bagi seluruh akademisi). Paradigma 3P ini adalah kunci untuk membangun kembali rumah intelektual dosen.

“Jika 3P diterapkan konsisten, kampus akan kembali menjadi ruang hidup intelektual. Bukan sekadar tempat kerja,” katanya.

Menutup refleksinya, Prof. Kurjum melemparkan pertanyaan fundamental yang menusuk: Untuk apa kampus didirikan? Jawabannya melampaui sekadar mencetak lulusan; tujuannya adalah membangun peradaban.

Jika dosen—sebagai jantung institusi—tak lagi betah, maka kampus secara harfiah kehilangan jiwanya. Ia menyerukan, “Sudah saatnya kampus berhenti mengejar simbol dan mulai membangun suasana hati, agar intelektual tidak lagi pergi mencari arti di luar kampusnya sendiri.”


Disadur dari: https://suaraindonesia.co.id. “Krisis Makna di Perguruan Tinggi: Ketika Dosen Tak Lagi Menemukan Rumahnya di Kampus”. [18/10/2025]